Di Balik Penutupan Sekolah Islam di Beberapa Negara

By Juliansyah On 23 Jun 2017
Di Balik Penutupan Sekolah Islam di Beberapa Negara
 
Kegiatan sekolah al-Nukhba yang mendidik 230 murid di Palestina. REUTERS/Ronen Zvulun.

 

tirto.id - Malek Fahd Islamic School, salah satu sekolah Islam terbesar di Australia terancam ditutup, setelah pemerintah Australia dan juga pemerintah negara bagian memutuskan menghentikan bantuan dana untuk sekolah tersebut. 

Menurut laporan dari ABC, Selasa (20/6/2017), sekolah Islam yang berlokasi di Sydney tersebut telah menerima sekitar 3,2 juta dolar Australia dari pemerintah federal untuk bulan Februari dan Maret. Akan tetapi, pemerintah berhenti mengucurkan dana untuk sekolah tersebut untuk bulan April dan bulan-bulan berikutnya. 

"Baik Commonwealth maupun negara bagian telah membayarkan uang sekolah di awal tahun. Baru pada April Commonwealth memutuskan menunda pembayaran lebih lanjut," kata Ketua dewan pengelola sekolah, Dr John Bennett. 

Selain menghentikan dana bulanan, pemerintah juga menghentikan dana tahunan yang mencapai 5 juta dolar Australia dari pemerintah negara bagian. Sejumlah dana yang sudah dikucurkan juga rencananya akan ditarik karena menurut pemerintah setempat, sekolah Islam tersebut sudah menarik keuntungan dari sejumlah kucuran dana bantuan pemerintah pada tahun 2014 dan 2015. Jumlah yang akan ditarik kembali berkisar 11,5 juta dolar Australia. 

Tahun lalu, Menteri Pendidikan Australia Simon Birmingham menarik sekitar 19 juta dolar dana tahunan sekolah setelah munculnya permasalahan terkait pengelolaan keuangan pihak yayasan Federation of Islamic Council (AFIC) Australia. 

Masalah yang membelit sekolah Islam ini membuat para orang tua kecewa. Jika benar-benar ditutup, maka 2.400 pelajar sekolah tersebut akan menjadi korban. Belum lagi para staf pengajar dan pekerjanya. Para orang tua berharap pihak kementerian memberi sedikit waktu bagi sekolah tersebut untuk membenahi dan menyelesaikan berbagai persoalan, sehingga pemerintah dapat kembali memberi bantuan untuk sekolah tersebut. 

Sebelumnya, Pemerintah Australia juga menghentikan bantuan bagi Islamic Collage of South Australia mulai pertengahan April 2017. Hal itu terjadi karena pihak pengelola sekolah dianggap gagal memenuhi “persyaratan ketat” dari pemerintah termasuk soal peningkatan tata kelola keuangan, aturan dan pelaporan perubahan-perubahan yang dilakukan oleh sekolah tersebut. 

"Mengecewakan, bahwa setelah diberi beberapa kali kesempatan dan kerjasama konstruktif antara departemen dengan sekolah tersebut sejak November 2015, sekolah gagal memenuhi standar yang diharapkan dari mereka." kata Simon Birmingham. 

Dana dari pemerintah dan pemerintah negara bagian sangat penting pada lembaga pendidikan di Australia. Penarikan sejumlah bantuan yang kemudian membuat sebuah sekolah ditutup, dapat mempengaruhi para siswa yang kini banyak meminati sekolah swasta yang mengajarkan Islam. Saat ini, banyak orang tua yang memilih sekolah swasta Islam dibandingkan sekolah negeri di Australia. 

Pada tahun 2015, ada sekitar 39 sekolah swasta Islam di Australia. Menurut data Departemen Pendidikan Federal, jumlah siswa di sekolah Islam Australia mencapai 28 ribu orang atau naik 82 persen dibandingkan dengan jumlah siswa pada tahun 2009 di 32 sekolah yang hanya 15 ribu orang. Lonjakan tertinggi terjadi di kawasan luar kota Melbourne. 

Menurut seorang guru dari Tasmania yang meneliti soal sekolah-sekolah Islam, Peter Jones, mengungkapkan bahwa orang tua Muslim menganggap bahwa anak-anaknya akan lebih aman jika bersekolah di sekolah-sekolah swasta Islam. Mereka juga merasa anak mereka akan sedikit lebih terlindungi dari lingkungan yang kurang ramah. 
 

 
 



Jika di Australian masih dalam tahap terancam akan ditutup, makan di Malta, negara kepulauan di Eropa Selatan itu sudah menutup sekolah Islam setara SMP yakni The Mariam Al Batool Muslim School pada Februari lalu. Sekolah itu adalah satu-satunya sekolah Islam di negara tersebut. Meski sekolah SMP sudah ditutup, tetapi sekolah masih mempertahankan jenjang pendidikan TK dan SD. 

Penutupan salah satu sekolah Islam itu lantaran adanya krisis keuangan. Padahal pemerintah sudah turun tangan dan memberi subsidi 300 ribu euro setiap tahun, juga pinjaman bebas bunga pada tahun 2011 dan 2012 sebesar 200 ribu euro. 

Dana dari pemerintah tersebut ternyata masih belum cukup untuk mengendalikan situasi keuangan. Utang terus menumpuk sehingga memaksa pihak berwenang sekolah untuk membuat keputusan dramatis yakni menutup sekolah setara SMP dan tetap mempertahankan TK dan SD. Akibat penutupan tersebut sejumlah pelajar harus pindah ke beberapa sekolah pemerintah di wilayah tersebut. 

Tahun ini, penutupan sekolah Islam juga terjadi di Myanmar. Ratusan biksu ultranasionalis menutup paksa sekolah Islam yang berada di pinggiran Yangon bagian timur. Penutupan sekolah itu lantaran tak terima jika sekolah itu digunakan untuk beribadah, padahal izin untuk beribadah sudah diberikan oleh pihak berwenang yang tertuang dalam dokumen bertanggal 29 Agustus 1990. Perlakuan ini cukup berbeda dengan yang dialami umat Buddha di Myanmar yang dapat beribadah dengan bebas, kapan pun dan di mana pun. 

Cerita lain soal penutupan sekolah datang dari sekolah dasar Al Nakhba di timur Yerusalem. Ketegangan antara Israel dan Palestina berdampak pada penutupan sekolah yang menjadi tempat belajar bagi 250 siswa Palestina, oleh pemerintan Israel pada Februari lalu. Kementerian Pendidikan Israel bersama pihak kepolisian setempat menutup sekolah itu lantaran dituduh mengajarkan “hasutan” dan adanya kurikulum pendidikan yang “mengancam keamanan Israel.”

Sejak Israel merebut bagian timur Yerusalem dalam perang tahun 1967, pihak Israel telah berusaha memaksa sekolah-sekolah Palestina untuk mengadopsi kurikulum Israel. Menurut pemerintah Israel, kebijakan itu dimaksudkan agar siswa Palestina mudah mengakses universitas di Israel. 

Meski sekolahnya sudah ditutup, anak-anak Palestina tetap mencari cara untuk belajar termasuk belajar di jalan. Tindakan tersebut juga menjadi cara mereka untuk melakukan protes terhadap pemerintah Israel dan menganggap bahwa keputusan Israel menutup sekolah mereka menunjukkan kekuasaan yang tirani. 

Dalam beberapa hal, penutupan sekolah berbasis agama memang dikaitkan dengan buruknya tata kelola. Namun, di sisi lain, ada pula penutupan sekolah karena konflik ataupun kepentingan politik. Dalam semua konflik itu, yang dirugikan jelas anak-anak yang haknya mendapatkan pendidikan terabaikan.

Sumber: UcNews.id