Berkat Bukti-bukti Ini Akhirnya Terjawab Sudah Apa Agama Gajah Mada

By Juliansyah On 23 Jun 2017
Berkat Bukti-bukti Ini, Akhirnya Terjawab Sudah Apa Agama Gajah Mada
 
 

 

SURATKABAR.ID – Beberapa waktu belakangan ini, Mahapatih Gajah Mada dan Majapahit menjadi perbincangan hangat di media sosial. Pasalnya, tulisan Arif Barata di situs portal-islam.id yang mengutip buku “Kasultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi” karya Herman Janutama itu menyatakan, Gajah Mada beragama Islam dan Majapahit pun merupakan kesultanan.

Alhasil berbagai reaksi atas tulisan itu bermunculan. Tak jarang banyak komentar netizen yang mencibir dan menertawakan. Walaupun demikian, para pihak yang mencibir itupun sebenarnya juga tak bisa menunjukkan dasar argumennya.

Dalam diskusi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Kamis (22/6/2017), arkeolog menuturkan; jika tak memahami sejarah dan arkeologi, sangat mungkin masyarakat memiliki kesimpulan yang salah tentang Majapahit. Demikian sebagaimana direportasekan kembali dari Tribun, Jumat (23/6/2017).

Hasan Djafar yang merupakan Arkeolog Universitas Indonesia mengungkapkan, artefak berbau Islam dari masa Majapahit memang banyak ditemukan.

Misalnya saja, dari Makam Troloyo pun diketahui ada 100-an nisan yang berhiaskan tulisan Arab. Nisan itu berasal dari masa 1203 – 1533 Masehi. Artinya, ada sejumlah nisan yang berasal dari masa sebelum berdirinya Majapahit pada 1292. Ini berbeda dengan pandangan umum yang menyatakan bahwa Islam baru muncul pada akhir kerajaan itu.

Eksistensi Islam sebelum Majapahit didukung oleh sejumlah catatan.

“Ada yang menyebutkan, tahun 1082, sudah ada masyarakat Islam di Gresik,” imbuh Hasan.

Kendati ada artefak berbau Islam, arkeolog tetap berkeyakinan bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Samudera Pasai, bukan Majapahit.

Koin dengan tulisan Arab, nisan dengan kalimat syahadat tidak cukup menjadi bukti keislaman kerajaan yang berpusat di Trowulan itu.

“Majapahit tetap bercorak Hindu-Buddha, tercermin dalam peraturan perundang-undangan dan sistem teologinya. Saya tidak melihat benih-benih Islam sedikit pun,” tegas Djafar.

Sementara itu, arkeolog dan penulis buku “Catuspatha: Arkeologi Majapahit”, Agus Aris Munandar, menyebutkan, keyakinan bahwa Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha didasarkan pada sumber-sumber arkeologi yang sebenarnya punya peringkat tersendiri.

“Sumber peringkat pertama atau yang paling bisa dipercaya adalah prasasti yang sezaman. Lalu prasasti yang terkait dengan prasasti sezaman itu,” urainya.

Sumber pada peringkat berikutnya adalah data arkeologis berupa monumen, fitur, dan artefak bergerak.

Karya sastra yang sezaman dan yang lebih muda berada pada peringkat yang lebih rendah. Hal lain yang bisa jadi sumber arkeologi adalah berita asing, legenda, mitos, dongeng, dan pendapat para ahli

“Kalau ada artefak koin dengan tulisan Arab, itu tidak bisa langsung menghapus kekuatan sumber prasasti lalu dijadikan dasar mengatakan Majapahit kerajaan Islam,” imbuhnya.

Lebih lanjut lagi, Agus menjelaskan, identitas agama Gajah Mada dan Majapahit bisa dilihat dari prasasti dan hingga sistem pemerintahan. Seperti untuk gelar raja, misalnya, sudah bisa menjadi bukti bahwa Majapahit merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha.

“Raden Wijaya bergelar Krtarajasa Djayawarddhana Anantawikramotunggadewa. Djayawardhana itu sudah jelas Hindu karena artinya keturunan Dewa Wisnu yang bertahta,” jelas Agus.

Identitas agama Majapahit juga bisa dilihat dari konsep dewaraja. Setiap raja di Majapahit memiliki dewa pujaan pribadi. Saat raja itu meninggal, dia diyakini akan bersatu dengan dewanya. Candi yang dibuat pasca meninggalnya raja itu akan dihiasi oleh figur sang raja yang digambarkan sebagai dewa pujaannya.

“Contoh, Tribhuanottunggadewi itu memuja Dewi Parwati, maka setelah meninggal diwujudkan sebagai dewa itu,” kata Agus.

“Nama pejabat tinggi dalam Majapahit juga menunjukkan corak Hindu dan Buddha. Misalnya, ada Dharmmadyaksa ring Kasaiwan dan Dharmmadyaksa ring Kasogatan. Kasogataan artinya Kebuddhaan. Tidak ada Dharmmadyaksa ring Muslimah atau lainnya,” imbuh Agus.

Bukti lain ialah penataan kota Majapahit yang memperhatikan letak gunung yang dipercaya sebagai tempat suci dan corak prasasti.

Sumber: Ucnews.id